Hukum Memelihara Jenggot dan Isbal

A. Hassan (tokoh Persis) pernah ditanya tentang masalah memanjangkan jenggot, beliau berpendapat bahwa boleh mengatur rambut kepala, jenggot, kumis, pakaian dan lain-lain asal ada tanda yang mudah dikenal sebagai orang Islam. Jika ada suatu cara yang dapat membedakan antara muslim dengan lainnya, tidak ada halangan untuk mencukur jenggot.[1]

Akan tetapi sangat berbeda dengan Dr. Yusuf Qardhawi yang mengatakan bahwa sebagian besar kaum muslimin sekarang mencukurnya. Mereka mengekor musuh-musuh agama dan penjajah negeri mereka, yaitu Yahudi dan Nasrani. Seperti yang biasa terjadi, pihak yang kalah selalu mengikuti pihak yang menang. Kaum muslimin melalaikan perintah Rasul saw untuk berbeda dengan mereka dan menirunya. Karena “Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia bagian dari mereka.”

Sehingga hukum mencukur jenggot ini ada tiga pendapat. Pertama, pendapat yang mengharamkan. Dan ini disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan ulama lainnya. Kedua, pendapat yang menganggapnya makruh, seperti tersebut dalam Fathul Bari dari Al-Qadhi ‘Iyadh tanpa menyebut ulama lain. Ketiga, yang membolehkan, yaitu yang dikatakan oleh sebagian ulama sekarang. Barangkali pendapat yang pertengahan dan paling adil adalah pendapat yang mengatakan sebagai makruh. Karena perintah di sini tidak menunjuk kepada wajib secara tegas, meskipun diberi alasan agar berbeda dengan orang kafir.[2]

Adapun mengenai isbal memang juga terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama. Sebagian mengatakan haramnya isbal secara mutlak dan sebagian  mengatakan bahwa isbal itu hanya diharamkan bila diiringi rasa sombong. Realitasnya para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat mana pun dari ulama itu, tetap wajib kita hormati.

Terkadang kita dapati seseorang yang taklid dengan ulama yang satu, tetapi mendapati ulama yang lain berbeda pendapat, dengan begitu entengnya mencaci, mengumpat, menghina, dan menghujat ulama. Menghormati pendapat ulama, meski tidak sesuai dengan selera kita, adalah bagian dari akhlaq dan adab seorang muslim yang mengaku bahwa Muhammad I adalah nabinya. Dan Nabi Muhammad I itu tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq.

1. Pendapat yang mengatakan mutlak haram

Pendapat yang mengharamkan isbal secara mutlak sebuah contoh, misalnya fatwa Syeikh Abdullah bin Baz rahimahullah. Jelas dan tegas sekali beliau mengatakan bahwa isbal itu haram, apa pun niat dan alasannya. Dengan niat riya’ atau pun tanpa niat riya’. Pendeknya, apa pun bagian pakaian yang lewat dari mata kaki adalah dosa besar dan menyeret pelakunya masuk neraka.

Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka” (HR. Bukhari).

“Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu” (HR Muslim).

Kedua Hadits ini dan banyak lagi Hadits lain yang semakna dengannya, menurut beliau, mencakup orang yang menurunkan pakaiannya (isbal) karena sombong atau dengan sebab lain. Karena Rasulullah I mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan. Kalau melakukan isbal karena sombong, maka dosanya lebih besar dan ancamannya lebih keras.

Syeikh Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan, tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan isbal itu hanya karena sombong saja, karena Rasullullah I tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua Hadits yang telah kita sebutkan tadi, sebagaimana juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam Hadits yang lain. Beliau I telah menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong, maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju ke sana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan, dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.

Adapun ucapan Nabi I kepada Abu Bakar ketika berkata: Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda:

“Engkau tidak termasuk golongan orang yang melakukan itu karena sombong” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksudkan oleh Rasulullah I saat itu bahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga) tidak melakukan isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan. Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiannya turun.

Syeikh Abdullah bin Baz menyatakan: “Karena Hadits-hadits shahih yang melarang melakukan isbal bersifat umum dari segi teks, makna dan maksud. Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan Hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi taufiq.[3]

2. Pendapat yang mengharamkan bila dengan niat riya’

Sedangkan pendapat para ulama yang tidak mengharamkan isbal asalkan bukan karena riya, di antaranya adalah pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Khusus dalam masalah hukum isbal ini, beliau punya pendapat yang tidak sama dengan Syeikh Bin Baz. Beliau memandang bahwa haramnya isbal tidak bersifat mutlak. Tindakan isbal hanya haram bila memang dimotivasi oleh sikap riya’. Namun tindakan isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi riya’. Beliau menerangkan hukum atas sebuah Hadits tentang haramnya isbal, beliau secara tegas memilah masalah isbal ini menjadi dua. Pertama, isbal yang haram, yaitu yang diiringi sikap riya’. Kedua, isbal yang halal, yaitu isbal yang tidak diiringi sikap riya’.[4]

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan: “Dalam Hadits ini terdapat keterangan bahwa isbal izar (memanjangkan sarung) karena sombong termasuk dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya’), meski lahiriyah Hadits mengharamkannya juga, namun Hadits-hadits ini menunjukkan adalah taqyid (syarat ketentuan) karena sombong. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini. Maka tidak diharamkan isbal (memanjangkan kain) atau asalkan selamat dari sikap sombong.”[5]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah, di dalam Syarah Shahih Muslim, beliau menuliskan pendapat: “Adapun Hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad.

Beliau menambahkan, khuyala’ adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi I telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, “Kamu bukan bagian dari mereka.” Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.[6]

Dalam hal ini saya lebih condong kepada yang berpendapat alangkah baiknya kita memilih sikap berhati-hati karena takut berbuat haram atau yang kita kenal dengan istilah wara’. Di mana dengan wara’ seorang muslim menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat, sehingga dengan demikian dia tidak akan terseret untuk berbuat kepada yang dilarang/haram. Argumentasi yang paling mudah, jika itu ternyata hukumnya boleh tidak masalah, akan tetapi jika ternyata itu dilarang kita juga yang rugi.


[1] Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama 3-4, oleh A.Hassan dkk, halaman 1256.

[2]  Halal Haram dalam Islam, oleh Dr. Yusuf Qardhawi hal. 142-143.

[3] Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz dinukil dari Majalah Ad Da’wah hal 218.

[4] Lihat Fathul Bari, Hadits 5345

[5] Ibid.

[6] Dikutip dari buku Fiqih Ikhtilaf: Panduan Umat di Tengah Belantara Perbedaan Pendapat oleh Ahmad Sarwat, Lc hal 202-203.

Ahmad Sarwat berpendapat bahwa klaim isbal itu haram secara mutlak dan sudah disepakati oleh semua ulama adalah klaim yang kurang tepat. Sebab siapa yang tidak kenal dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumallah. Keduanya adalah begawan ulama sepanjang zaman. Dan keduanya mengatakan bahwa isbal itu hanya diharamkan bila diiringi rasa sombong. Maka haramnya isbal secara mutlak adalah masalah khilafiyah, bukan masalah yang qath’i atau kesepakatan semua ulama. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan itulah realitasnya.

Posted on 30 Desember 2012, in Islami. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: