Hukum Makan Daging Anjing

Seperti yang telah kita ketahui, tentang haramnya daging anjing, para ulama telah berbeda pendapat. Adapun pendapat yang tidak menajiskan anjing, kita akui memang ada. Di antaranya adalah kalangan mazhab Maliki. Barangkali yang tidak menajiskan mengacu apa yang disimpulkan oleh mazhab Maliki.

Adapun pendapat tentang tidak najisnya anjing itu bukan ijtihad kemarin sore, pendapat itu bukan mengada-ada atau asal-asalan. Tetapi lahir dari hasil ijtihad ulama sekelas Imam Malik. Tentu kita tau siapa Imam Malik, beliau adalah guru Imam Syafi’i, yang dianggap sebagai imam ulama Madinah saat itu.

Sebagai murid Imam Malik, namun Imam Syafi’i tidak merasa harus mengekor dan membeo kepada semua pendapat gurunya itu. Dan kapasitas beliau sendiri memang sangat layak untuk berijtihad. Hal ini sangat jauh berbeda dengan kita yang baru hafal beberapa Hadits saja  sudah merasa pantas berijtihad.

Mengenai najisnya anjing ini, di kalangan para ulama terbagi tiga pendapat:

Pertama, Seluruh tubuhnya najis bahkan termasuk bulu (rambutnya). Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan salah satu dari dua riwayat (pendapat) Imam Ahmad.[1]

Kedua, Anjing itu suci kecuali air liurnya saja. Inilah pendapat yang masyhur dari Imam Malik.[2]

Ketiga, Air liurnya itu najis dan bulunya itu suci. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan pendapat lain dari Imam Ahmad.[3]

Dilihat dari perbedaan pendapat tersebut, tentu kita sangat paham, selama suatu masalah itu masih menjadi titik perbedaan para ahli fiqh (fuqaha), selama itu pula pasti akan terus terjadi perbedaan pendapat di kalangan awam.

Akan tetapi baik pendapat yang menajiskan atau yang tidak, keduanya lahir dari sebuah proses ijtihad para ulama besar yang kapasitasnya diakui dunia. Dan semua punya dalil sendiri-sendiri, yang masing-masing sulit untuk dipatahkan begitu saja. Meski berbeda pendapat, para imam besar itu bermesraan dan saling menghormati, bahkan saling menyanjung. tidak pernah saling mencaci atau menjelekkan.

Kita boleh memilih mana yang menurut kita lebih masuk akal atau yang lebih membuat kita tenteram. Tanpa harus menyalahkan atau mencaci maki saudara kita yang kebetulan tidak sama pilihannya dengan pilihan kita. Terlebih lagi dengan menghina para ulama dengan cacian dan makian yang sangat kotor. Di mana dengan mereka keilmuan kita sama sekali tidak ada apa-apanya. Apalagi dengan membanding bandingkan ulama yang kita merasa cocok saja, ilmu kita sudah sejauh mana? Kita punya kitab apa saja? kitab apa saja yang sudah kita baca dan kuasai? Barangkali jika dibandingkan, seujung kukunya saja belum.

Sungguh sangat-sangat terlalu, bila perbedaan pendapat ini tidak disikapi dengan cara dewasa, akan tetapi justru disikapi dengan saling menyakiti, saling hina, saling cela, saling sindir, saling hujat, saling menjatuhkan bahkan saling menfitnah. Naudzubillahi min dzalik.


[1] Lihat Al Umm jilid 1 hal. 8, kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 78, Kitab Kasy-syaaf Al-Qanna` jilid 1 hal. 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 hal. 35.

[2] Asy-Syarhul Kabir jilid 1 hal. 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 hal. 43.

[3] Fathul Qadir jilid 1 hal. 64, Kitab Al-Badai` jilid 1 hal. 63.

Posted on 30 Desember 2012, in Islami. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Inilah Tafsir MTA surat al-Baqarah : 173. Mari baca dengan seksama! Mungkin karena inilah maka anjing boleh disantab.

    Terjemah surat al-Baqarah : 173
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah : 173)

    Tafsir MTA memulai uraian tafsirnya dengan mengaitkan ayat ini dengan ayat-ayat Qur’an Surat:
    al-An’am: 145, al-Nahl: 115, al-Maidah: 3,
    kemudian menyimpulkan dengan Kesimpulan:
    Menilik ayat-ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang diharamkan Allah jika manusia memakannya hanya empat macam tersebut di atas. Oleh karena itu jangan ada manusia di mana saja dan kapan saja berani-berani menambah dari yang 4 tersebut. Karena dengan tandas pula Allah telah menjelaskan bahwa perincian itu adalah empat, seperti firman-Nya di surat Al An’am ayat 119.
    Artinya:
    Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (Al An’am ayat 119)
    Dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan:
    Akal siapakah yang membenarkan penambahan dari yang 4 macam yang diharamkan oleh Allah, bagi manusia yang memakannya?

    Untuk memperkuat hujahnya, MTA menyitir beberapa ayat dalam Al-qur’an surat:
    Al-Maidah: 87, Al-Nahl: 116, Yunus: 59, Al-A’raf: 32 yang diikuti dengan mengajukan pertanyaan:

    Dan masih beranikah manusia mengada-adakan atau berdusta atas nama Allah?

    Kemudian guna menguatkan hujahnya tentang ‘mengada-adakan’, MTA menyebutkan beberapa ayat Qur’an surat:
    QS. Al-A’raf: 37, Al-An’am: 21, Al-An’am: 93, Al-An’am: 144, Al-An’am: 157, Yunus: 17, Hud: 18, Al-Kahfi: 15, Al-Kahfi: 57, Al-Ankabut: 68, Al-Shaff: 7, Al-Sajdah: 22, Al-Zumar: 32.

    Sampai akhirnya pada pernyataan:
    Ada sementara orang yang mendasarkan penilaian haram-tidaknya makanan berdasarkan kriteria menjijikkan atau tidak makanan tersebut.

    Yang diperkuat dengan ayat: Al-A’raf: 157 yang dijelaskan dengan penjelasan sebagai berikut:

    Dalam ayat ini terdapat kalimat, “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik” (wa yuhillu lahum al-thayyibat), dan “Dan mengharamkan bagi mereka yang buruk-buruk” (wa yuharrimu ‘alaim al-khabaits). Banyak orang yang keliru memahami kalimat ini hingga memasukkan selain 4 hal yang diharamkan di atas sehingga memasukkan apa saja yang dipandang buruk. Hal ini tidak bisa dipakai dasar karena jika digunakan maka terjadilah perbedaan hukum atas hal atau sesuai yang sama. Contoh kasus ‘katak’. Katak di daerah Jawa Tengah dipandang menjijikkan, oleh karenanya dipandang haram memakannya. Hal ini berbeda dengan Cina yang memandang katak tidak menjijikkan, dan karenanya tidak haram atau halal. Jika kriterianya adalah “menjijikkan”, maka jelas dari kasus katak ini terdapat dua hukum yang berlawanan, yakni haram di Jawa Tengah, dan halal di Cina. Oleh karena itu, yang dimaksud ‘al-thayyibat’ dalam ayat di atas adalah “barang-barang/makanan-makanan yang dihalalkan,” sedangkan ‘al-khabaits’ adalah “makanan-makanan yang diharamkan.”
    Wal hasil yang haram itu hanya 4 macam. Apakah itu sesuai dengan selera manusia atau tidak, tetapi bagi konsekwuensi logisnya seseorang yang beragama Islam, maka selera dirinya harus tunduk kepada tuntunan Allah dan bukan sebaliknya. Dan yang lebih aneh lagi kalau orang kafir jahiliyah dahulu merasa putus asa terhadap agama Islam karena agama Islam mengharamkan makanan yang dimakan oleh manusia hanya 4 macam, tetapi orang-orang yang mengaku beragama Islam jaman sekarang ada yang naik pitam karena yang diharamkan oleh Allah hanya 4 macam.
    Kedudukan hadis yang diakuinya sahih, Benar hadis-hadis ini memang sahih, tetapi lantaran al-Quran telah membatasi hanya 4 macam makanan yang diharamkan tersebut, maka “… mungkinkah Nabi menambahnya?” tidak mungkin Nabi menambah selain 4 macam tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: