Bolehkah menghadiahkan pahala amal kepada orang yang sudah mati?

Maksud dari menghadiahkan amal atau oper pahala yang saya sebutkan di sini yaitu seseorang yang mengerjakan shalat, puasa, haji dan lain-lainnya, atau mengirimkan bacaan-bacaan Al-Qur’an atau mewakafkan tanah dan bangunan dengan niat dan tujuan agar pahalanya disampaikan bagi yang telah mati.  Dengan kata lain si mayit dapat menerima pahala atau manfaat dari amal orang yang masih hidup.

Ulama sepakat bahwa orang yang telah mati dapat menerima manfaat dari usaha orang-orang yang masih hidup dengan dua sebab.[1]

Pertama: Yang diusahakan oleh si mayit sewaktu masih hidup.

Adapun dalilnya:

ÈÇNø=Îãtr =ptƒ Α$t` =ps%t‰t¹,  =^nxnP ÷`ÎBnwÎ# âmè=nJnãnìnÝn)÷RÎ# nPnŠn#ç`÷0#x N $nB#nŠÎ#

æmn<÷qæã÷‰tƒ =xÎ< $t¹=‰Í< trtr m0 ìΔnF÷Ynƒ

“Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”  (HR. Muslim).[2]

Dari Hadits ini dapat disimpulkan bahwa yang dapat memberi manfaat setelah kematian seseorang ialah amalan yang dilakukan di masa hidupnya, di mana hal itu yang menyebabkannya memperoleh pahala secara terus menerus. Adapun selain dari amalan tersebut, terputus pahalanya dengan terputusnya amalan dan kehidupannya. Tentang hal ini para ulama sepakat, tidak ada perbedaan pendapat dikalangan mereka.

Mengenai Hadits di atas ada dari saudara kita mengakui kesahihan Hadits baik dari segi sanad dan matan. Akan tetapi menolak Hadits selainnya, karena dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an. Hadits-hadits yang menerangkan sampainya pahala kepada orang yang telah mati dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an Surat An-Najm: 39 dan ayat-ayat yang lain.

ž br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Allah Ta’alla berfirman

tPöqu‹ø9$$sù Ÿw ãNn=ôàè? Ó§øÿtR $\«ø‹x© Ÿwur šc÷rt“øgéB žwÎ) $tB óOçFZà2 tbqè=yJ÷ès?

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Yaasiin: 54).

Kedua:  Amal saleh dari orang-orang yang masih hidup   kemudian dihadiahkan pahalanya kepada yang telah mati. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat tentang sebagian ibadah, pendapat mereka terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama

Kelompok ini berpendapat bahwa setiap amal ibadah yang dilakukan orang yang masih hidup dan diperuntukkan kepada orang yang telah mati adalah boleh dan akan bermanfaat pahalanya bagi orang telah meninggal. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Imam Ahmad serta sejumlah sahabat Imam Syafi’i. mereka berpendapat: “Setiap amal kebaikan akan sampai kepada orang yang telah mati berdasarkan dalil-dalil yang ada.[3]

Adapun dalil-dalil yang mereka gunakan dalam menguatkan pendapat tentang sampainya pahala do’a dan sedekah:

Hadits ‘Aisyah yang menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah I dan berkata:

ööMpJ©?s4t?qx9 $pg•Zàßs# pr ÉÄ Éöàq@ öMs9 pr$sgâ¥÷”sS ôMpFÏ?äK(ù #P‘gÉH ä#£bÏ# :«!#tAöqܟt‘$tƒ

     ÷NtépR :  ¨A$s% $pg÷Zpã âMø%‰sÁsAôbÅÁ#íóg  s#$pgs=sùs# óMs%¨‰tÆt?

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggaldunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat, saya rasa seandainya ia sempat berbicara niscaya akan bersedekah, adakah pahala baginya jika saya bershadaqah untuknya? Jawab Nabi: “Ya” (HR.  Bukhari dan Muslim).[4]

 

Hadits dari Ibnu ‘Abbas yang menceritakan bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Nabi I lalu dia berkata: “Sesungguhnya, ibuku bernazar akan berhaji, tetapi dia belum sempat berhaji sampai dia meninggal. Apakah aku (dapat) menghajikannya?” Nabi I bersabda: “Berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu, jika ibumu menanggung hutang, apakah engkau melunasinya? Bayarlah (hutang) kepada Allah, karena hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi”(HR.  Bukhari).[5]

Dalam riwayat yang lain, juga dari Ibnu ‘Abbas menceritakan bahwa ada laki-laki datang kepada Rasulullah I, seraya berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia, padahal dia mempunyai tanggungan puasa sebulan. Apakah aku harus berpuasa atas nama dirinya?

Beliau balik bertanya, “Sekiranya ibumu mempunyai tanggungan hutang, apakah engkau akan melunasinya?”

Dia menjawab: “Ya”

Beliau bersabda: “Hutang kepada Allah lebih layak untuk dilunasi.”

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa seorang wanita yang bertanya kepada nabi mengenai boleh tidaknya berpuasa atas nama ibunya, karena ibunya telah meninggal dunia sedang dia mempunyai tanggungan puasa nadzar. Rasulullah I menjawab: “Bukankah hutangnya itu patut dilunasi?” Beliau juga Bersabda: “Maka berpuasalah atas nama ibumu”[6]

Hadits ‘Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

ãmʊ9ur ãmöZpãzP$z»îP$pŠÄ½Ä mö‹s=uæzr zN $pH ö`Ip

Barang siapa meninggal dunia, sedang dia mempunyai tanggungan puasa, hendaklah walinya berpuasa untuknya”(HR.  Bukhari dan Muslim).[7]

Selain Hadits tentang bolehnya mengganti puasa dan haji ada juga Hadits tentang doa shalat jenazah, tentang doa setelah mayit dikuburkan, tentang doa ziarah kubur, tentang bebasnya hutang mayit yang ditanggung orang lain yang mengisyaratkan tentang sampainya pahala kepada mayit. Kelompok pertama ini juga menggunakan dalil qiyas. Dengan mengatakan pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan hutang setelah wafatnya.[8]

Kelompok Kedua

Adapun kelompok kedua berpendapat: Bahwasanya pahala yang dikirimkan tidak akan sampai kepada mayit kecuali apa yang diterangkan oleh dalil yaitu yang berupa doa, shadaqah, dan haji. Adapun selain itu tidak akan sampai dan tidak pula disyariatkan perbuatannya. Pendapat ini membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi’i dan pendapat Madzhab Malik.

Dalil yang digunakan tentang sampainya doa, shadaqah dan haji merupakan dalil yang sama dengan kelompok pertama.

Imam Syafi’i berkata: “Sampainya pahala kepada mayit dari tiga amalan orang lain, yaitu haji yang dilaksanakan untuknya, harta yang dishadaqahkan/dilunasi untuknya dan doa. Adapun selain itu termasuk shalat, baca Al-Qur’an dan puasa itu hanya milik pelaku dan tidak sampai kepada mayit. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul I:

 

”Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum” (HR.An-Nasa’i).

Apabila ibadah itu menggunakan harta benda seperti ibadah haji yang memerlukan pengeluaran dana yang tidak sedikit, maka pahalanya bisa dihadiahkan kepada orang lain termasuk kepada orang yang sudah mati. Karena bila seseorang memiliki harta benda, maka dia berhak untuk memberikan kepada siapa pun yang dia kehendaki. Begitu juga bila harta itu disedekahkan untuk orang lain, hal itu bisa saja terjadi dan diterima pahalanya untuk orang lain. Termasuk kepada orang yang sudah mati. Misalnya Hadits berikut ini:

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi saw unntuk bertanya:` Wahai Rasulullah saw sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya? Rasul saw menjawab: Ya, Saad berkata:` saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya` (HR. Bukhari).

Para pendukung pendapat Imam Syafi’i membolehkan perwakilan pada amal perbuatan maliyah dan melarang pada amalan yang bersifat badaniyah. Kemudian membatasi ibadah yang terdapat keterangan tekstualnya saja dan melarang selain itu. Adapun doa karena diperbolehkan berdoa untuk saudara yang masih hidup, berarti boleh jika berdoa untuk orang yang telah mati.[9]

Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang telah mati mendapatkan manfaat dengan shalat (jenazah) atasnya, doa untuknya, haji baginya, dan semacamnya, dari segala sesuatu yang manfaatnya telah pasti didapatkan oleh seseorang dengan sebab amal orang lain.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang wanita boleh menghajikan wanita lain, (hal ini) berdasarkan kesepakatan para ulama.” Syaikhul Islam juga mengatakan, “Tentang menghajikan orang yang sudah mati atau orang yang tidak kuat badannya, dengan harta yang diambil dari orang yang dihajikan itu sebagai biaya selama haji, maka ini boleh, dengan kesepakatan para ulama. Adapun menghajikan orang yang mengambil upah, (hal ini) masih menjadi perselisihan pendapat di antara para ahli fikih.”

Adapun mengirim bacaan Al-Qur’an juga terjadi silang pendapat dikalangan ulama. Mazhab Al-Hanifiyah menyebutkan bahwa setiap orang yang melakukan ibadah, baik berupa sedekah, bacaan Al-Quran atau lainnya adalah merupakan amal kebaikan yang menjadi haknya untuk mendapat pahala. Dan juga menjadi haknya pula bila dia menghadiahkan pahala itu untuk orang lain. Dan pahala itu akan sampai kepada yang dihadiahkan. Imam Asy-Syafi’i sendiri mengatakan tidak sampainya pahala bacaan ayat Al-Quran buat orang yang sudah wafat, tindakan itu merupakan hal yang dimakruhkan (karahiyah).

Ibnu Taimiyah rahimahullahmengatakan bahwa mayat akan mendapat manfaat dari bacaan Al-Quran yang dihadiahkan oleh orang yang masih hidup kepada dirinya. Hal itu sebagaimana sampainya pahala ibadah maliyah seperti sedekah, waqaf dan lainnya. Namun beliau mengatakan apabila orang yang membaca Al-Quran itu minta upah, maka pahalanya tidak ada. Sebab sudah diganti dengan uang.

Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa yang paling utama untuk bisa dihadiahkan kepada mayit adalah istighfar, sedekah, doa dan badal haji. Sedangkan kiriman pahala bacaan Al-Qur’an, bila dilakukan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai. Sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji. Di dalam bagian lain dari kitabnya itu, beliau menyebutkan bahwa disunahkan ketika membaca Al-Quran untuk mayit, diniatkan agar pahalanya disampaikan kepada ruhnya, tapi tidak harus dengan melafadzkan niat. Wallahu a’lam.


[1] Lihat kitab Manhaj ‘Aqidah Imam Asy-Syafi’i yang disusun Dr. Muhammad bin A.W Al ‘aqil hal. 428-433.

[2] HR. Muslim dalam sahihnya dari hadit Abu Hurairah(3/1255)

[3] Syarah Al-‘Aqidah Ath Thahawiyah (452), Al-Majmu’ oleh Imam Nawawi (15-1255)

[4] HR. Bukhari di kitab Al-Janaiz (1/467), Muslim di kitab Az-Zakat (2/692)

[5] HR. Bukhari dalam kitabnya Al-Ihshar wa Jaza’ Ash-Shaid (2/656-657)

[6] Kedua Hadits ini diriwayatkan Bukhari-Muslim yang memberikan pengertian bahwa puasa harus diqadha atas nama orang yang meninggal dunia baik puasa wajib maupun nadzar. Dan Sabda Nabi “Hutang kepada Allah lebih layak untuk dilunasi,” terkandung dalil untuk mendahulukan zakat dan hak-hak Allah yang bersifat material, jika dicampur dengan hak-hakNya dan hak manusia dalam harta warisan orang yang meninggal. (Lihat di kitab Syarah Hadits Pilihan Bukhari-Muslim oleh Abdullah bin Abdurahman Alu Bassam hal. 490-491)

[7] HR. Bukhari di kitab Ash-Shaum (2/690), Muslim (2/803)

Abu Dawud berkata :”Hal ini berlaku secara khusus untuk nadzar.” ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad. Kekhususan untuk nadzar ini juga didukung oleh Abu Ubaid, Al Laits, Ishaq dan Ibnu Qayyim. Berbeda dengan pendapat Abu Tsaur, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah dan para ahli Hadits yang mengatakan juga berlaku bagi puasa wajib.

Akan tetapi berbeda dengan Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i yang berpendapat tidak ada qadha baik puasa nadzar maupun wajib. Ibid, hal. 485-488)

[8] Lihat Al Mughni oleh Ibnu Qudamah (6/567)

[9] Al Umm (4/120), Manaqib Asy-Syafi’i (1/430-431)

Posted on 30 Desember 2012, in Islami. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum.
    ada pendapat merujuk ke beberapa hadits di atas, bahwa anak adalah hasil usaha yang baik dari orang tuanya shg anak dapat menghadiahkan amala ibadahnya buat orang tua si anak jika sudah meninggal, misal menyembelih daging kurban etc. wallohua’lam

    • Wa’alaikum salam
      merujuk ke dalil2 yang ada, memang ada kontradiksi. saya melihat ada 3 kelompok yang berbeda pendapat : pertama menolak sama sekali semua amal yang diberikan
      atau dikirimkan bagi yang sudah meninggal, kedua : apapun bisa dikirimkan dan tatacaranya tidak diikat apapapun, ketiga : Berpendapat bahwa ada hal hal tertentu yang bisa dikirimkan dg melihat dalil dalil yang ada akan tetapi melihat siapa yang dikirimi amalan tersebut. wallahu’alam

  2. Saya pribadi juga condong kependapat ketiga mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: