Adakah kesurupan Jin itu?

Kejadian masuknya jin ke dalam tubuh manusia memang masih menjadi teka-teki bagi sebagian orang. Peristiwa yang lebih dikenal dengan istilah kesurupan atau kerasukan jin ini sering kali menjadi polemik di tengah masyarakat kita yang majemuk. Sehingga sekian persepsi bahkan kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan.

Ada yang mendustakan kemungkinan masuknya jin ke dalam raga manusia, sekelompok lain menangkalnya dengan menggunakan azimat-azimat yang tercela. Yang pertama mendustakan sesuatu yang ada, sedangkan yang kedua melakukan kemaksiatan, bahkan mereka cenderung kufur kepada Allah. Adapun umat yang pertengahan (Ahlus Sunah), mereka membenarkan kenyataan yang ada.

Sungguh aneh, seseorang yang belum pernah belajar bahasa Arab atau bahkan tidak mengenal bahasa Arab, tiba-tiba saja pandai berbicara dengan bahasa Arab. Dan tidak jauh berbeda, seorang yang berdomisili di Jawa Barat dan kurang begitu paham dengan bahasa Jawa, tiba-tiba dengan lembut berbicara bahasa Jawa krama inggil dengan begitu fasihnya.[1] Demikianlah salah satu fenomena yang pernah kita jumpai di masyarakat kita. Mengapa hal itu bisa terjadi? Dan ada apa dibalik semua itu?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, berkata: “Oleh karena itu, sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i, Abu Bakr Ar-Razi, dan yang semisalnya, mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan, namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu (menurut mereka) karena dalil dari Rasulullah I tentang peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yang menunjukkan tentang adanya jin, walaupun sesungguhnya (pendapat) mereka itu keliru.[2]

Semoga dalil-dalil baik dari ayat Al-Qur’an dan Hadits maupun yang saya nukilkan dari keterangan para ulama ahli Hadits bisa membuka kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil, bukan penilaian pribadi atau golongan.

Allah Ta’ala berfirman:

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 ÇËÐÎÈ

“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila” (Al-Baqarah: 275).

Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari ketika menafsirkan ayat ini mengatakan “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di dunia, yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila (rusak akalnya).”

Al-Imam Al-Baghawi berkata tentang makna al-massu: “Yaitu gila/hilang akal. Seseorang disebut مَمْسُوْسٌ (gila/hilang akal) jika dia menjadi gila atau rusak akalnya.”

Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya, yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan”.

Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat ini terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa itu hanyalah proses alamiah yang terjadi pada tubuh manusia, serta rusaknya anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia.”

Dalam tafsir at-Tahrir wa at Tanwir Ibnu Asyur berkata “al massu” pada dasarnya adalah menyentuh dengan tangan. Jika disebut secara ma’rifah, sementara sebelumnya tidak ada keterangan tentang menyentuh tertentu, menurut mereka menunjukkan sentuhan jin. Disebutkan ‘rajulu mamsus” yakni gila. Firman “minal mass” perlu ditambahkan supaya tampak dengan jelas maksud dari kerasukan setan, sehingga tidak disangka bahwa hal itu adalah masuk yang bersifat majaz yang berarti was-was.

Perkataan para ahli tafsir yang semakna dengan ini cukup banyak. Barangsiapa yang mencari, Insyaallah akan mendapatkannya.

Dalam Hadits diriwayatkan dari Utsman bin Abi Ash radhiyallahu ‘anhuberkata,

Dari Utsman bin Abu Al ‘Ash dia berkata, “Tatkala Rasulullah I menugaskan aku di Tha`if, tiba-tiba ada sesuatu yang selalu menggangguku di dalam shalat sehingga aku tidak menyadari shalat yang aku kerjakan. Ketika aku sadari, maka aku lekas pergi kembali menemui Rasulullah I, beliau lalu bertanya: “Ibnu Abu Al ‘Ash?” Aku menjawab, Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi: “Kabar apa yang kamu bawa?” Aku menjawab, “Ada sesuatu yang mengganguku di dalam shalat, sehingga aku tidak menyadari shalat yang aku kerjakan.” Beliau bersabda: “Itu adalah setan, mendekatlah kamu.” Maka aku pun mendekat kepada beliau, dan aku duduk di atas kedua telapak kakiku. Dia melanjutkan, “Kemudian beliau menyentuh dadaku dengan tangannya, lalu meludah di mulutku dan bersabda: “Keluarlah wahai musuh Allah.” Beliau melakukan hal itu hingga tiga kali, kemudian bersabda: “Kembalilah kepada tugasmu semula.” (Perawi) berkata, “Utsman berkata, “Demi Dzat yang menghidupkan aku, aku tidak pernah lagi merasakan ada yang menggangguku”  (HR. Ibnu Majah).[3]

 

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkomentar,” Dalam Hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa setan bisa merasuk ke badan manusia sekalipun dia orang yang beriman dan shalih. Banyak Hadits yang mendukung adanya hal itu.”

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’ Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada tempatnya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu juga mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah. (para pendahulu umat ini). Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia, juga merupakan perkara yang benar sesuai dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunah wal Jamaah.[4] Merupakan perkara yang masyhur dan dapat ditangkap dengan indra bagi orang yang memperhatikannya. Ia dapat masuk ke dalam tubuh orang dan berbicara dengan ucapan yang tidak dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dengan keras pun ia tidak merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan, niscaya akan kesakitan, namun orang yang kesurupan tadi tidak merasakannya. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat. Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yang menafikannya.”[5]

Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata, “Al-Qur’an, sunah Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallamdan kesepakatan umat telah menunjukkan bahwa jin bisa masuk pada jasad manusia. Lantas pantaskah bagi orang yang mengaku berilmu untuk mengingkarinya tanpa pijakan ilmu dan petunjuk. Laa haula wa laa quwwata illa billahi.”

Al-Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah berkata: “Gila ada dua macam, gila yang disebabkan oleh gangguan roh jahat yang ada di muka bumi ini, dan gila yang disebabkan oleh cairan-cairan (gangguan fisik) yang amat buruk.[6]

Jenis kedua inilah yang dibahas oleh para dokter, adapun kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat (di antaranya jin/setan), para pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka, pengobatannya harus dengan roh-roh yang mulia lagi baik agar dapat melawan roh-roh yang jahat lagi jelek itu. Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh buruknya, bahkan dapat membatalkan tindak kejahatannya.

Akan tetapi, jika seseorang terkena sihir, guna-guna, santet, kesurupan jin dan lainnya atau penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh, kita dilarang mendatangi dukun, tukang sihir atau paranormal. Pengobatan yang diajarkan oleh Nabi ialah ruqyah, yaitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a yang sahih.[7]

Wahai saudaraku kaum muslimin peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya kesurupan, telah ada keterangannya di dalam Kitabullah (Al-Qur`an), Sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ (kesepakatan) umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan bagi kita untuk mengingkarinya.

Sebab menurut ilmu kedokteran sendiri, jenis kesurupan semacam ini benar-benar ada dan tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Terlebih bila keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita saat ini dapat kita saksikan dibeberapa media massa baik cetak maupun elektronik tentang adanya kesurupan massal disekolah-sekolah dan madrasah.

Akan tetapi zaman sekarang banyak orang yang bertingkah laku seperti orang kesurupan tetapi sebenarnya tidak kesurupan. Karena jika manusia mengalami kegoncangan  dan beban yang berat, terkadang bisa berubah ucapan maupun tingkah lakunya menyerupai orang kesurupan. Adakalanya hanya berpura-pura kesurupan dan yang seperti ini banyak sekali.[8]

Wallahu a’lam


[1]Krama inggil maksudnya bahasa jawa yang paling halus dan pengunaannya dengan maksud menghormati orang yang diajak bicara.

[2] Lihat kitab ‘Alamul Jin Wasyayathiin, karya Dr. sulaiman Al Asyqar hal. 78.

[3] HR. Ibnu Majah no: 3538

[4] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (XIX/12).

[5] Ibid (XXIV/276-277).

[6] Zadul Al-Ma’ad (IV/66-70)

[7] Lihat majalah As-Sunah Edisi 06/Tahun IX/1426H/2005M, hal. 23 oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

[8] Lihat buku Alam Jin, karya Abdul Hakim bin Amir Abdat hal. 33.

Posted on 30 Desember 2012, in Islami. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: